Pelita dari Tanah Lado

0
62

Menjadi guru Matematika memiliki nilai keistimewaan tersendiri di mata siswa. Tanpa perlu menjelaskan siapa dirinya, sedalam apa kemampuan berhitungnya dan sebanyak apa rumus yang dikuasainya, siswa tanpa ragu memberi label pintar bagi guru mata pelajaran matematika. Demikian juga kesan yang muncul dari seorang guru bernama Aspawati, S.Pd. Tidak hanya kesan ‘pintar’ yang muncul dari seorang Bu Aspawati dimata para siswa, tetapi juga ramah, bersemangat sekaligus garang. Sebagai guru mata pelajaran dengan tingkat kesulitan tinggi, beliau sangat paham bahwa rasa jenuh kerap melanda siswa-siswinya ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, maka untuk mengembalikan mood yang mulai menurun, dirinya tak segan mengajak siswa siswinya melakukan olahraga ringan untuk sekedar melemaskan otot-otot yang mulai menegang.  

Sejak awal karirnya pada tanggal 1 Januari 1983 hingga November 2021, Bu Aspawati setia mengabdikan diri di SMPN 11 hingga pensiun. Jika di total sudah 38 tahun 11 bulan beliau menjalani tugas menjadi pendidik dengan cita-cita mulia mencerdaskan anak bangsa. Menghadapi berbagai jenis karakter siswa dari tahun ketahun dan dari generasi ke genarsi sudah sangat dikuasai dan dipahaminya. Dirinya justru merasa sangat terkendala dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat Pandemi berkepanjangan yang memaksa guru dan siswa tidak bisa belajar secara tatap muka dan hanya melalui jaringan internet/ daring. Aktivitas yang sudah biasa dilakukannya seperti menyapa siswa secara langsung, memahami karakter siswa, mengamati gaya belajar siswa yang kesemuanya bisa dinilai secara langsung menjadi terbatas dan terasa lebih sulit.

Kurikulum K-13 yang menitikberatkan pada pengembangan karakter siswa adalah kurikulum yang digunakan di SMPN 11 Bandar Lampung saat ini. Sejatinya kurikulum ini sudah dikhatamkan berkali-kali oleh Bu Aspawati. Dirinya begitu piawai dalam menstimulasi siswa untuk berfikir, memilih, mempertimbangkan dan memutuskan menggunakan aspek kognitif yang muaranya adalah untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh siswa.  Meski begitu Bu Aspawati mengerti akan keterbatasan diri terutama yang berkaitan dengan tekhnologi yang memungkinkan mengoperasikan banyak aplikasi. Sadar akan kekurangannya tersebut, beliau kemudian banyak bergaul dengan guru muda yang dianggapnya melek IT untuk diajak berkolaborasi membuat model ataupun video pembelajaran.

Sebagai guru yang sudah kenyang akan pahit getir dunia pendidikan, Bu Aspawati mengingatkan kepada guru-guru penerus tongkat estafet pendidikan di SMPN 11 untuk lebih selektif menyerap ilmu yang akan dibagikan kepada peserta didik. Di era digital dimana arus informasi begitu deras, pengetahuan dan informasi serta nilai-nilai tertentu sangat mudah diakses dimanapun dan kapanpun justru menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi beliau. Banyaknya informasi yang desak mendesak kerapkali membuat bias sesuatu yang semestinya jelas menjadi samar, tak jarang pula keburukan yang dikemas apik tampak begitu mengesankan hingga kita benar-benar tertipu dan sulit membedakan mana emas dan mana loyang. Untuk itu beliau senantiasa mengingatkan kita semua agar menjadi guru yang bisa menjadi pelita hingga tampak terang bagi anak didik mana yang benar dan mana yang salah.

Sadar bahwa diatas langit masih ada langit, rendah hati selalu melekat dan menjadi bagian dari diri Bu Aspawati. Maka tak mengherankan jika guru satu ini mengidolakan guru yang prinsipnya senantiasa dipegangnya hingga kini. Guru dari para guru yang beliau maksud adalah adalah Ki Hajar Dewantara yang memiliki slogan:

“Ing ngarso sung tulodo”,

“Ing madya mangun karso”

“Tut wuri handayani”

(di depan memberikan teladan, ditengah-tengah memberi bimbingan dan membangun semangat dan dibelakang memberikan dorongan/ motivasi). Prinsip ini tidak hanya beliau praktikkan pada anak didiknya tetapi juga pada rekan kerja sesama guru di SMPN 11 Bandar Lampung.

Sebagai putra daerah Yang lahir dan besar di tanah Lampung, adalah suatu kebanggan tersendiri bagi Bu Aspawati bisa mengambil bagian dalam upaya memajukan tanah kelahirannya di bidang pendidikan. Maka tidak mengherankan jika dirinya memfavoritkan lagu daerah Lampung berjudul Tanoh Lado yang diantara liriknya berbunyi:

Meregai buai ghik bahasa

Nayah sina tanda gham kaya

Adat ghik budaya

Sukatni ka ga nga

Jadi waghisan jama jama

Tabik pun jama sai tuha raja

Punyimbang sebatin semerga

Salah ghik cempala

Tiyan sai ngukha ngukha

Tilik tawai sikam kiluya

(Terdapat banyak adat dan bahasa, banyak itu tandanya kita kaya, adat dan budaya suratnya kaganga, jadi warisan bersama-sama, minta maaf dengan yang tua raja, penyeimbang sebatin semerga, kesalahan dan kekhilafan mereka yang muda-muda, mohon untuk diajari). Sejalan dengan pesan yang tersirat melalui lagu favoritnya ini, beliau senantiasa mengingatkan kami guru-guru muda untuk selalu randah hati, menerima jika diingatkan tentang kesalahannya dan bertekad memperbaiki serta tidak malas untuk terus belajar. Satu hal lagi pesan mendalam yang terekam apik dalam memori adalah saat dirinya mengatakan bahwa tidak semua orang akan selalu sependapat dengan diri kita, tidak semua orang bisa menerima dengan baik keberadaan kita, maka kita harus siap menata hati agar tidak terbawa suasana apalagi sampai pada menurunnya kinerja.

Di hari Guru yang jatuh pada pada tanggal 25 November 2021, beliau memiliki perspektif tersendiri dalam memaknainya. Seperti yang sudah-sudah beliau selalu mengingatkan kepada seluruh siswa siswi SMPN 11 Bandar lampung bahwa hari guru bukanlah hari dimana dilegalkannya tradisi memberi hadiah kepada guru sebagai bentuk penghormatan dan terimakasih atas jasa guru. Baginya, menghormati dan menghargai jasa guru semestinya tidak hanya dilakukan di hari guru, tapi setiap hari. Dan bentuknya juga tentu bukan berupa barang, melainkan prestasi, sikap dan attitude yang baik. Sebagai seorang guru beliau begitu menyadari bahwa meraih prestasi bukanlah perkara yang mudah, tapi memalui kacamata guru matematika beliau memberikan ilustrasi seperti membuat sebuah lingkaran. Untuk membentuk suatu lingkaran yang utuh, tetap akan selalu diawali oleh sebuah titik. Maka buatlah titik dan segera bentuk sebuah lingkaran prestasi. Kalimat sederhana yang penuh makna. Terimakasih Bu Aspawati atas teladan dan nasihat yang begitu terang benderang, SMPN 11 patut bangga memilikimu. Selamat hari guru yang ke 76 untukmu Bu Aspawati, dan untuk kita semua.

Berikut ini adalah puisi untuk seluruh guru di SMPN 11 Bandar Lampung dalam rangka memperingati hari guru ke 76.

Sakai Sambayan Untuk Negeri

Tangan mereka bergandengan

Hati mereka berpautan

Niat yang terserak mereka pertemukan.

Menuju satu tujuan membangun peradaban.

Menjunjung prinsip Sakai sambaian

Kepada kami mereka kenalkan aksara

Menuang kata menjadi tinta

Menyibak alam semesta dengan hikmahnya

Hingga jelaskan mana terpuji dan mana tercela.

Mereka hidup bersama banyak cita cita

Dari ratusan bahkan ribuan kepala

Berusaha membabat berbagai lengkara

Bentangkan asa terbuka menganga

Demi menyulap gulita menjadi pelita

Wahai guru,

Ilmumu bangun generasi berbudaya literasi

Semangatmu membara memotivasi

Ketulusanmu tak butuh negosiasi

Keteladananmu sangat menginspirasi

Dan jasamu tak bisa dikalkulasi

Semua bersakai sambaian

Bersama Sakai sambaian

Sendiri jua Sakai sambaian

Terimakasih guru

Kami berjanji persembahkan prestasi

Secara Sakai sambaian untuk negeri.

Esti Latifah

Bandar Lampung, 25 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here